Arsip untuk Maret, 2012

BUSINESS PLAN

Posted: Maret 15, 2012 in Uncategorized

MEMULAI DAN MENGELOLA BISNIS
1. Ide Bisnis
Membangun suatu bisnis dimulai dari pemilihan ide tentang bagaimana, apa, di mana, dan cara memulai bis-nis tersebut. Suatu bisnis dimulai dari munculnya ide cemerlang dalam benak seseorang tentang keinginan membangun usaha dan harapan akan keberhasilan usaha tersebut. Bentuk ide suatu bisnis akan berbeda pada setiap orang sesuai karakter, pengala¬man, keahlian, pengaruh lingkungan atau sense yang dimiliki. Berikut ini berbagai ide bisnis yang menjadi penggerak seseorang dalam membuka usaha :

1. Hobi
Bill Gates, si raja komputer dari Amerika Serikat, memulai usaha¬nya dari sebuah hobi mengutak-atik program komputer. Hobi yang ditekuni dengan serius ini telah berhasil membawa Bill Gates un¬tuk menemukan komputer yang lebih praktis dan lebih mudah di¬gunakan daripada komputer besar yang ada pada saat itu.

2. Mengamati
Roy Kroc, tokoh di balik sukses restoran waralaba cepat saji McDonald, mendapatkan ide usahanya dari pengamatannya terhadap tingkah laku masyarakat pekerja di sekitarnya.

3. Membantu Orang
Ide membantu orang lain untuk memperoleh upah atau keuntung¬an, seperti menjualkan barang orang lain, mempertemukan penjual dan pembeli, dan sebagainya.

4. Ide Lama
Jeff Bezos dari Amazon.com mendapatkan ide usahanya dengan memperbarui ide lama penjualan buku dari toko buku biasa men¬jadi di internet sehingga lebih cepat & praktis.

5. Ide Orang Lain
Jennifer Basye Sander membangun kerajaan “Buku Kuning”/ (direktori) seluruh usaha yang dikelola oleh wanita di kota tempat ia tinggal. Ternyata buku ini laris. Informasi dalam buku ini senantiasa diperbarui agar selalu up-to-date.

6. Kolaborasi
Kadang kala, dua kepada lebih baik dari satu, begitu kata pepatah. Ternyata ada benarnya juga, Dewitt dan Lila Wallace berkolaborasi sebelum berhasil membangun kerajaan usaha dari penerbitan majalah inspirasi bulanan Reader’s Digest.

7. Terbitkan
Tom Peters, Alvin Toffler, Agatha Christie adalah beberapa tokoh yang menuangkan ide usaha mereka dalam buku atau novel yang lalu mereka terbitkan. Dari buku-buku ini, sang pengarang mendapatkan pemasukan.

8. Catat secara Hukum
Ide kita juga bisa dicatat untuk mendapatkan copyright. Seorang artis Indonesia mencatatkan gayanya disertai kalimat khusus un¬tuk mengungkapkan gaya tersebut untuk mendapatkan hak cipta.

9. Adakan Pertunjukan
Cara lain untuk mengubah ide menjadi keuntungan finansial adalah dengan mendemokan kepada publik melalui seminar, pelatihan, ataupun sekadar pertunjukan dalam bentuk hiburan. Beberapa akademisi dan praktisi memilih cara ini untuk memperkenalkan ide mereka kepada publik.

10. Nasihat ke Orang lain
Pada saat tulisan ini sedang dikerjakan, penulis sedang berada di depan televisi menonton acara yang disampaikan oleh Suze Orman di sebuah atasiun televisi dunia. Suze Orman menerima berbagai pertanyaan dari pemirsa di seluruh dunia tentang bagaimana mengelola keuangan pribadi.

11. Konsumsi Masyarakat
Cara umum yang banyak diterapkan orang adalah mengubah ide menjadi produk atau jasa yang bisa dijual untuk konsumsi masyarakat. Contohnya: rumah makan, kafe, dan lain-lain.

2.     Peluang Bisnis
Titik fokus pertama dalam entrepreneurship adalah apakah seseorang melihat adanya peluang bisnis di sekitarnya atau tidak. Peluang bisnis merupakan situasi yang memungkinkan terciptanya kerangka berpikir baru dalam rangka menciptakan dan mengombinasikan sumber daya untuk menghasilkan profit. Peluang bisnis merupakan kesempatan bagi seseorang untuk membuka usaha sesuai keinginan, kemampuan, kekuatan, atau pengalaman yang dimiliki.

Faktor Peluang Bisnis

1. Perubahan Teknologi
Perubahan teknologi merupakan peluang usaha karena me¬mungkinkan orang untuk mengalokasikan sumber daya dengan cara yang berbeda dan lebih potensial. Berbagai provider, warnet, industri komputer telah menjadi lahan usaha baru dengan adanya perubahan teknologi dari konvensional ke Internet.

2.    Perubahan Politik dan Kebijakan
Perubahan politik dari Orba ke Reformasi dan perubahan kebijakan dari Pusat ke Otonomi Daerah merupakan sumber peluang usaha baru.

3.    Perubahan Demografi
Struktur demografi juga membuka peluang usaha. Demografi Yogyakarta sebagai kota pelajar dan budaya juga dikenal sebagai daerah tujuan bagi pensiunan. Hal ini membawa dampak bagi jenis usaha yang dikembangkan di kota Yogyakarta.

4.    Institusi Pendidikan
Institusi pendidikan sebagai pusat penelitian adalah sumber peluang usaha dengan memanfaatkan hasil penelitian. Zucker dkk (1998) menemukan bahwa jumlah ilmuwan dan universitas dalam suatu daerah berkorelasi dengan peningkatan jumlah perusahaan bioteknologi dan hak paten yang dihasilkan.

5. Akses Informasi
Informasi memungkinkan seseorang memperoleh peluang membu¬ka usaha dibandingkan dengan orang lain yang tidak mengetahui¬nya. Beberapa orang mampu mengenali peluang lebih baik karena mereka memiliki informasi lebih dibandingkan orang lain (Hayek, 1945; Kirzner, 1973).

6.    Variasi Pengalaman Hidup
Variasi dalam pengalaman hidup menyediakan akses pada informasi yang baru dan dapat membantu seseorang dalam menemukan peluang karena sebuah informasi yang barn kadang memiliki elemen yang hilang dan membutuhkan kecermatan bahwa peluang baru telah hadir. Variasi dalam pengalaman menyebabkan seseorang akan menerima informasi yang baru.

7.    Ikatan Sosial
Ikatan sosial meningkatkan kemungkinan seseorang dalam me¬nemukan peluang usaha melalui interaksi dengan orang lain atau jejaring sosial mereka. Struktur dari jejaring sosial akan meme¬ngaruhi informasi yang diterima dan mengategorikan informasi tersebut.

8. Kepribadian
Kepribadian berpengaruh terhadap tindakan seseorang dalam mengambil keputusan terkait pemanfaatan peluang.
Ada 3 aspek kepribadian yang berpengaruh dalam memanfaatkan peluang, yaitu sebagai berikut:
a. Ekstraversi
Ektraversi terkait dengan sikap sosial, asertif, aktif, ambisi, inisiatif, dan ekshibisionis. Sikap ini akan membantu entrepre¬neur untuk mengeksploitasi peluang, terutama dalam mem¬perkenalkan ide ataupun kreasi mereka yang bernilai kepada calon pelanggan, karyawan, dan sebagainya. Sikap ini mem¬bantu entrepreneur untuk mengombinasikan dan mengorga¬nisasikan sumber daya dalam kondisi yang tidak menentu.

b. Agreebleeness (Kesepahaman)
Sikap ini terkait dengan keramahan, konformitas sosial, keinginan untuk memercayai, kerja sama, keinginan untuk memaafkan, toleransi, dan fleksibilitas dengan orang lain. Hal ini akan membantu entrepreneur dalam membangun jaringan kerjasama untuk kematangan bisnisnya, terutama aspek dari keinginan untuk memercayai orang lain.

c. Pengambilan Risiko
Sikap ini berkaitan dengan kemauan seseorang untuk ter¬libat dalam kegiatan berisiko. Beberapa risiko yang mung¬kin dihadapi oleh entrepreneur antara lain pemasaran, finansial, psikologis, dan sosial. Seseorang yang memiliki pe¬rilaku pengambilan risiko yang tinggi akan lebih mudah dalam mengambil keputusan dalam keadaan yang tidak menentu dan mengorganisasikan sumber daya yang dimilikinya, terutama dalam memperkenalkan produknya ke pembeli.

9. Motivasi
Hal yang tak kalah penting dalam entrepreneurship adalah motiva¬si. Ketika sekumpulan orang dihadapkan pada peluang yang sama, mempunyai keterampilan yang hampir sama dan informasi yang sama maka orang dengan motivasi tertentu akan memanfaatkan peluang, sementara yang lain tidak. Sebagian besar entrepreneur dimotivasi oleh keinginan untuk menentukan nasibnya sendiri. Ada 2 macam kebutuhan yang melandasi motivasi seorang en¬trepreneur, yaitu:

a. Kebutuhan Berprestasi
Merupakan motivasi yang akan memicu seseorang untuk terli¬bat dengan penuh rasa tanggung jawab, membutuhkan usaha dan keterampilan individu, terlibat dalam risiko sedang, dan memberikan masukan yang jelas. Kebutuhan berprestasi yang tinggi dapat dilihat dari kemampuan individu dalam meng¬hasilkan sesuatu yang baru terhadap masalah khusus. Selan¬jutnya, kebutuhan berprestasi juga dicirikan dengan adanya penentuan tujuan, perencanaan, dan pengumpulan informasi serta kemauan untuk belajar. Ciri selanjutnya dari adanya ke¬butuhan berprestasi adalah kemampuannya dalam membawa ide ke implementasi di masyarakat. Dengan demikian, kebu¬tuhan berprestasi yang tinggi akan membantu seorang entre¬preneur dalam menjalankan usahanya untuk memecahkan masalah sesuai dengan penyebabnya, membantu dalam menen¬tukan tujuan, perencanaan, dan aktivitas pengumpulan infor¬masi.

b. Keinginan untuk Independen/Mandiri/Unik
Faktor ini menjadi penentu kekhasan dari seorang entrepre¬neur. Selain keinginan yang tidak ingin ditentukan oleh orang lain, keinginan untuk independen akan memicu seorang entre¬preneur menghasilkan produk yang berbeda dengan orang lain. Ia akan lebih berani dalam membuat keputusan sendiri dalam mengeksploitasi peluang berwirausaha.
Motivasi seseorang juga akan meningkat seiring dengan adanya role model dalam membangun usahanya. Seorang entrepreneur akan berupaya mewarnai bisnisnya karena terinspirasi dengan en-trepreneur yang telah sukses sebelumnya. Biasanya hat ini akan terlihat ketika seorang entrepreneur mulai memperkenalkan usa¬hanya ke publik. Role model berperan sebagai katalis dan mentor dalam menjalankan usahanya. Selain itu, jaringan dukungan sosial (dukungan moral & profesional) dari orang-orang di sekitar entre¬preneur akan berperan, terutama ketika usaha tersebut menghada¬pi kesulitan ataupun ketika berada dalam keadaan stagnan dalam prosesnya.

10. Evaluasi Diri
Hat yang tak kalah penting dalam entrepreneurship adalah evaluasi diri, meliputi:
•    Locus of control
Locus of control didefinisikan sebagai kepercayaan seseorang bahwa is mampu mengendalikan lingkungan di sekitarnya. Seorang entrepreneur yang memiliki internal locus of control lebih mampu dalam memanfaatkan peluang kewirausahaan. Mereka memili i kemampuan dalam memanfaatkan petuang, sumber daya, mengorganisasikan perusahaan, dan membangun strategi. Hat ini dikarenakan kesuksesan dalam menjalankan aktivitas entrepreneur tergantung pada keinginan seseorang untuk percaya pada kekuatannya sendiri.
•    Self Efficacy
Self-efficacy adalah kepercayaan seseorang pada kekuatan diri dalam menjalankan tugas tertentu. Entrepreneur sering membuat penilaian sendiri pada keadaan yang tidak menentu, oleh karena itu mereka harus memiliki kepercayaan diri dalam membuat pemyataan, keputusan mengenai pengelolaan sum¬ber days yang mereka miliki.

11. Karakteristik Kognitif
Karakteristik kognitif merupakait faktor yang memengaruhi bagaimana seseorang berpikir dan membuat keputusan. Dalam mengembangkan peluang kewirausahaan seorang entrepreneur harus membuat keputusan positif mengenai sesuatu yang mereka belum pahami, dalam ketidakpastian, dan informasi yang terbatas. Dalam membuat keputusan positif tersebut dibutuhkan karakteristik kognitif yang membantu entrepreneur untuk memetakan cara bagaimana memanfaatkan peluang wirausaha. Karakteristik tersebut antara lain:

a.    Overconfidence
Overconfidence merupakan kepercayaan pada pernyataan diri yang melebihi keakuratan dari data yang diberikan. Sikap percaya yang berlebihan ini sangat membantu entrepreneur, terutama dalam membuat keputusan pada situasi yang belum pasti dan informasi yang terbatas. Overconfidence mendorong orang mampu memanfaatkan peluang usaha (Busenitz dalam Shane, 2003). Entrepreneur cenderung lebih overconfidence dibandingkan dengan para manajer.

b. Representatif
Representatif merupakan keinginan untuk menggeneralisasi dari sebuah contoh kecil yang tidak mewaidli sebuah populasi. Bias dalam representatif akan mendorong seorang entrepreneur dalam membuat keputusan. Ia menjadi lebih mudah dalam membuat keputusan terutama dalam keadan yang tidak me¬nentu. Para pendiri perusahaan memiliki nilai representative¬ness yang lebih tinggi dibandingkan dengan manajer. Hal ini menunjukkan bahwa gaya pemecahan masalah antara entre¬preneur dan manajer berbeda.

c. Intuisi
Sebagian besar entrepreneur menggunakan intuisi daripada menganalisis informasi dalam membuat keputusan. Kegunaan intuisi untuk memfasilitasi pembuatan keputusan mengenai ketersediaan sumber daya, mengorganisasi, dan membangun strategi baru. Dengan memfasilitasi pembuatan keputusan maka argumen akan muncul, dan intuisi selanjutnya akan meningkatkan performa dalam kegiatan entrepreneur. Ha¬sit penelitian Allison menunjukkan bahwa pendiri perusahaan lebih intuitif dalam pengambilan keputu¬san dibandingkan dengan manajer.

3. Kategori Bisnis
Bisnis diklasifikasikan atas empat kategori, yakni usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, dan usaha berskala besar. Gambar berikut menunjukkan batasan aset, nilai omzet, dan jumlah usaha yang ada di Indonesia hingga bulan April tahun 2009.
1. Usaha Kecil
Usaha kecil (small business) adalah usaha yang dikelola secara mandiri, tidak mendominasi pasar, dan memenuhi standar ukuran tertentu dari sisi laba dan jumlah karyawan. Usaha kecil menyediakan mayoritas lapangan kerja di bidang¬ perdagangan grosir, perdagangan ritel, jasa, pertanian, perikanan, industri konstruksi, usaha makanan dan minuman. Usaha kecil ritel yang dimiliki pribadi, seperti toko sepatu, alat tulis kantor, toko mainan, toko obat, toko bunga, peralatan, perhiasan, jumlahnya sangat besar dan jauh melampaui perusahaan besar yang ada. Di Indonesia usaha kecil banyak dioperasikan dari tempat tinggal si pemiliki bisnis karena biaya operasionalnya lebih rendah, mengurangi biaya sewa, fleksibilitas dan kebebasan waktu lebih longgar.

Tren Usaha Kecil
Usaha kecil sesuai perkembangan dunia usaha di Indonesia saat ini memiliki kecenderungan atau tren untuk memanfaatkan keahlian yang dimiliki, mendayagunakan anggota keluarga, pemanfaatan internet, dan adanya peluang global.

Memanfaatkan keahlian adalah tren usaha kecil yang paling ba¬nyak dilakukan para wirausahawan karena terkait dengan kemampuan, keahlian, dan pengalaman yang bersangkutan sesuai bidang usaha yang dikuasainya.

Mendayagunakan anggota keluarga adalah tren usaha kecil yang banyak diterapkan saat ini untuk menghemat biaya, gaji karyawan, ongkos-ongkos tak terduga lainnya, serta faktor kepercayaan terhadap orang luar dalam mengelola usahanya.

Pemanfaatan Internet adalah tren usaha kecil di era globalisasi yang mulai digunakan saat ini mengingat semakin mudahnya akses ke internet, semakin banyaknya provider, bandwith yang semakin besar, dan biaya internet yang terjangkau. Perdagangan online atau dikenal sebagai e-commerce merupakan tren yang lagi digandrungi saat ini terutama oleh kaum muda terdidik.

Peluang Global adalah peluang usaha kecil yang melihat adanya kesempatan memasuki pasar luar negeri dari perdagangan antarnegara, seperti pasar kerajinan tangan, hasil pertanian, perikanan, perkebunan, hasil hutan, pengiriman tenaga kerja wanita atau pengiriman tenaga keperawatan.

Keunggulan Usaha Kecil
Dibandingkan dengan usaha besar, usaha kecil memiliki perubahan dan pada posisi pasar, gaya manjeial, jumlah karyawan, kemampuan keuangan, bentuk organisasi maupun kapasitas staf. Perubahan ini memunculkan berupabahan keunggulan pada usaha kecil yaitu :

1.    Inivasi
Usaha kecil lebih kreatif dalam menjalankan bisnisnya daripada perusahaan besar serta ngata inofatif dalam memunculkan ide-ide untuk barang dan jasa baru.
2.    Biaya Rendah
Usaha kecil memiliki biaya oprasional yang randah karean orgasasinya kecil, upaya pegawai rendah, overhead cos kecil, dan dapat menyediakan barang jasa yang haragnaya lebih murah daibandngkan Rusahaan besar
3.    Curuk Pasar
Usaha kecil lebih menguasai curuk pasar yang tradisional dibandingkan dengan perusahaan besar yang harus mengeluarkan overhead xost yang tinggi
4.    Layanan Pelanggan
Usaha kecil lebih memberikan pelayanan yang superior ke pada pelangannya dibandingkan dengan perusahaan besar karena fleksibelitasnya tinggi dan penyesuaian dan jasa sesuai tuntutan pelanggan lebih cepat.

Kelemahan Usaha Kecil

1.    Manajemen
Usaha kecil umumnya memiliki manajemen yang kurang baik, sering mencampuradukkan urusan bisnis dengan rumah tangga, organisasinya tidak tertata dengan baik, tenaga agli sedikit, pengetahuan bisnis rendah.
2.    Dana
Kurangnya dana untuk membeli bahan baku atau produk, membeli peralatan, sewa tempat, untuk promosi, melatih karyawan, dan arus kas yang tidak merata merupakan kelemahan umumnya terdapat pada usaha kecil.
3.    Peraturan Pemerintah
Kebijakan tumpang tindah (over regulation) dan inkonsistensi menyebabkan ketidakpastian berusaha dan ketidakpastian hukum, serta beban biaya. Birokrasi yang tidak efisien akibat kurangnya koordinasi antar lembaga pemerintah dan korupsi dalam setiap bentuk pelayanan publik menyebabkan ekonomi biaya tinggi. Semua itu menghambat orang untuk membangun dan mengembangkan usaha kecil.

Kredit Koperasi & Kredit UMKM
Kredit koperasi dan kredit usaha mikro, kecil mengengah (UMKM) sejak tahun 2004 hingga 2009 terus mengalami penngkatan. Bila  pada tahun 2004 kredit korperasi sebesar Rp. 288.377 miliar dan kredit UMKM sebesar Rp. 271.093 miliar maka pada bulan januari 2009 kredit korporasi meningkat menjadi Rp. 664.858 miliar dan kredit UMKM meningkatkan menjadi Rp.624.981 miliar, baik kredit korparsi maupun kredit UMKM mengalami peningkatan hingga 2,3 kali lipat. Hal ini menunjukan bahwa kegiatan bisnis di Indonesia mengalami peningkatan pesat.

5.    Mind Set Bisnis
Pengalaman sebagai konsumen membuat kita menjadi lebih banyak tahu tentang produk atau jasa yang ditawarkan. Tantangan selanjutya adalah mempraktikan pengalaman tersebut dari perspektif seorang pengelola usaha.

6.    Memulai Bisnis
Memulai bisnis beru merupakan suatu hal yang menyenangkan. Agar kegembiraan tersebut berlanjut dengan dapat berjalan bisnis kita secara baik, hal-hal berikut perlukita lakukan.

Menyususn Rencana
Rencana bisnis (bisnis Plan) adalah dokumen tertulis yang berisi rencana usaha, rencana penjualan, rencana keuangan, dan sarana yang ingin dicapai dari suatu usaha tersebut. Rencana usaha merupakan pedoman bagi enterpreneur, karyawan, rekanan, kreditor, dan pihak-pihak lain dalam mengimplementasikan usaha tersebut.
1.    Menetapkan tujuan dan sarana yakni penjabaran atas tujuan usaha, strategi yang dipakai, implansi dilapangan, dan srana yang diharapkan dari usaha tersebut
2.    Peramalan Penjualan yakni memperbaiki seberapah besar produk yang akan dilakukan terjual. Jumlah persediaan barang digedung, luas ruang usaha yang akan dipakai. Dan tenaga kerja yang dibutuhkan.
3.    Rencana Keuangan yakni perencanaan modal awal yang dibutuhkan, dana cadangan yang tersedia. Titik peluang pokok (break even point) rencanan keuangan, serta aliran kas.

Awal Mulai Bisnis
Seseorang yang akan membuka usaha baru dan memulai usaha dari awal sebaiknya mengidentifikasi hal-hal berikut :
•    Siapa pelanggan kita
•    Lokasi pelanggan
•    Kemampuan daya dapat dibeli pelanggan
•    Siapa pesaing kita dan
•    Beda produk kita dengan pesaing
Dari identifikasi berikut lalu ditetapkan apa, di mana, kapan, seberapah besar, dan bagaimana kita memosisikan usaha baru kita. Kita harus memiliki industri dan pasar yang dimasuki sesuai dengan minat dan keahlian kita agar modal kita dapat sasaran dan optimal penggunaannya
Selain memulai usaha baru dari awal, kita juga dapat membeli usaha yang sudah ada atau membiayai usaha yang sedang berjalan,
Keuntungan membeli usaha yang sudah ada adalah track recordnya sudah jelas, pelanggan sudah ada. Relasi dengan pemasokl dan berbagai pihak sudah dibangun, serta gambaran laba yang sudah digambarkan/diketahui. Membiyayai usaha yang sedang berjalan dapat dilakuakan melalui penyertaan modal. Pembalian saham, waealaba, koperasi atau multi level merketing.
Yang harus diperhatikan
Agar usaha baru yangkita bangun berhasil. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah :
1.    Tekad Kuat. Kerja keras, dan Dedikasi
Kita harus memiliki tekad yang kuat bahwa usaha yang kita bangun akan berhasil. Dengan karja dan dedikasi yang tinggi atas usaha yang kita bangun, kita akan dapat mengatasi kendala, melalui rintangan, bahkan meminimalkan faktor-faktor penghambatan usaha
2.    Kompetensi Manajerial
Kompetensi manajerial harus kita miliki dengan mengikuti kursus pelatihan, seminar, lokakarya, dan belajar dari yang sudah ahli atau perpelangan di bidang usaha anda.
3.    Permintaan Pasar
Kita harus jeli dan tanggap mencermati permintaan pasar atas suatu produk atau jasa agar kita didahului pesaing dan menjadi pemimpin pasar.
4.    Kontrol yang ketat
Jangan pernah memberi celah terjadinya penyimpanan dalam usaha anda karena lama-lama akan membesar dan merusak sistem. Kontrol yang ketat dibutuhkan agar kelangsungan bisnis anda terjaga.
5.    Beri perhatian
Kita harus memberi perhatian pada semua tingkatan atau struktur yang ada dalam perusahaan agar semangat kerja keryawan tetap terjaga dan sesuai yang diharapkan.
Modal Diri
Modal diri dari seorang entreprener untuk memulai usaha adalah akal pikiran dan 3k: Keberanian, Keyakinan, dan ketekunan
Akal Pikiran
Manusia dikarunia kemampuan yang paling berharga dari yang maha kuasa berupa akal pikiran. Dengan akal pikiran kita diberi pengetahuan, kecerdasan, dan kecerdikan untuk menangkap peluang dari memanfaatkan untuk membangun suatu usaha.
pengetahuan, kecerdasan, dan kecerdikan untuk menangkap peluang dan memanfaatkannya untuk membangun suatu usaha.

Keberanian
Jika ingin memulai usaha baru, modal pertama dan utama bukanlah uang, tetapi keberanian: keberanian berubah, keberanian untuk bermimpi, keberanian bertindak, keberanian untuk gagal, dan keberanian untuk sukses. Segunung ide dan segudang uang tak ada artinya tanpa keberanian.

Keyakinan
Selain keberanian, kita juga perlu memiliki keyakinan sukses. Keyakinan ini hanya bisa didapatkan jika kita memiliki mimpi sukses yang jelas. Semakin jelas gambaran kita mengenai mimpi kita, semakin tinggi derajat keyakinan untuk meraih sukses.

Ketekunan
Membangun sebuah usaha memang tidak mudah, upaya ini memerlu¬kan perjuangan yang tekun sebelum sukses dapat diwujudkan. Orang yang sukses adalah orang yang tidak menyerah sebelum sukses itu da¬pat dapat diraih. Mungkin saja is harus mengalami banyak kegagalan, tetapi is bangkit kembali dan memiliki keuletan untuk mencoba lagi.

Kunci Sukses
Kunci sukses memulai suatu usaha adalah:

1.     Modal
Sesuaikan kondisi keuangan kita/modal awal dengan sasaran usaha awal yang akan kita buka. Modal awal yang ada cukup dibelanjakan untuk keperluan awal usaha. Akan lebih baik bila hanya 70% modal awal tersebut yang digunakan, sedangkan sisanya sebagai dana cadangan.
Tanpa modal Anda dapat juga membuka usaha bare dengan sistem kredit misalnya atau pola perjanjian lainnya asalkan prospek usahanya menjanjikan atau profitable.
2.     Skill
Membuka usaha sesuai keahlian yang kita miliki merupakan kunci awai suksesnya usaha tersebut. Dengan keahlian kita lebih siap menghadapi medan dan mampu menetralisir ancaman yang mungkin timbul dengan tindakan yang cepat.

3.     Lokasi
Pilih lokasi usaha yang strategis, mudah dijangkau, dan ramai pengunjung. Lokasi usaha memengaruhi animo konsumen untuk mampir/belanja, dan sangat berpengaruh terhadap kecepatan pengembangan usaha.

4.     Promosi
Anda perlu memperkenalkan usaha yang barn dibuka melalui pro¬mosi atau pemasaran, minimal melalui tampilan depan tempat usa¬ha yang didesain semenarik mungkin (ada pamflet, umbul-umbul, spanduk, dan lain-lain) yang dapat menarik pengunjung. Untuk usaha berskala menengah atau besar akan lebih baik bila promosi dilakukan melalui media internet, radio, surat kabar atau TV.

5.     Brand
Brand usaha meliputi logo dan nama usaha merupakan salah satu daya tank calon konsumen untuk mampir atau bergabung dengan perusahaan kita. Brand usaha harus singkat, jelas mudah diingat dan familier. Contoh: UNIKOM, singkatan dari Universitas Komputer Indonesia.

6.     Membangun Sistem
Bangun sistem usaha yang baik sejak awal memulai usaha, yang meliputi manajemen usaha, organisasi, dan pengelolaan finansial. Kelalaian dalam membangun sistem ini dapat mengaldbatkan usaha tersebut bermasalah pada kemudian hari, bangkrut, atau diselewengkan oleh karyawan yang dipercaya.

7.     Karyawan
Dalam merekrut karyawan, akan lebih baik jika telah memiliki keahlian sesuai bidang usaha yang kita buka. Untuk awal usaha jumlah karyawan tidak perlu banyak, sesuaikan dengan job yang ada dan bisa is tangani. Penambahan karyawan disesuaikan de¬ngan perkembangan usaha.
Penunjang Keberhasilan
Di samping 7 kunci sukses memulai usaha di atas, keberhasilan suatu usaha juga ditentukan oleh 7 Penunjang Keberhasilan berikut:

1.    Pengetahuan (Knowledge),
2.    Kemampuan (Capable),
3.    Pengalaman (Experience),
4.    Visi (Vision),
5.    Harapan (Hope),
6.    Keyakinan (Faith), dan
7.    Kebahagiaan (Happiness).

Prinsip Bill Gates, entrepreneur kelas dunia di bidang Teknologi Informasi, adalah:
1.     Percaya diri sendiri
Berani mengatakan dan melaksanakan apa yang hares dilakukan.
2.     Kerja sama
Bekerja sama dengan mitra yang dipercaya bila kesulitan dalam menjalankan visi.
3    Fokus
Fokus terhadap core bisnis yang dijalankan.
4.     Melihat petuang
Mampu melihat petuang sekecil apa pun dengan prediksi ke depan.
5.     Berbagi kemakmuran
Membagi keuntungan dengan karyawan atas kesuksesan yang diraih perusahaan.
6.     Belajar dari kesalahan
Belajar dari kesalahan dengan mengevaluasi sumber penyebab ke¬salahan tersebut
7.     Memperbaiki kesalahan
Memperbaild kesalahan dengan solusi yang tepat